Sekelumit selamat

Pexels

Sedari pagi, pikiranku tertambat pada huruf-huruf di layar handponeku. Ada kata yang ingin kurangkai untuk segera sampai kepada pemiliknya. Hari ini adalah hari istimewanya. Namun kurasa, kata itu tak akan pernah sampai.

Beberapa kata pernah kukirimkan sebelumnya. Bukan sebuah ucapan, hanya sebuah pertanyaan. Yang tak pernah berbalas, ditelan hari dan menghilang dalam galau yang berlebihan.

Sekarang sudah senja. Tanpa ada kopi. Bagiku, senja dan kopi tak senada. Begitu juga dengan pesanku dan kesanmu. Bertabrakan. Dengan rela kutuang saja isi kepala bersama huruf-huruf kecil yang berserakan. Ada kemungkinan kau ada di dalamnya, terbawa huruf kecil, menjadi makna yang kemudian membesar dan tak terselami.


Happy 4th July…

Gembala yang tersesat

Pexels

mari ikut aku
kubaringkan kau di padang rumput yang hijau
dengan mata air yang tak pernah kering
dan dedaunan yang menolak menguning

domba itulah kau
bertelingakan makhluk penurut
mengekor sang gembala tampan tanpa takut
sang Tuan penuntun menuju segala yang padu

sepanjang tuntunan, kemah iblis terbuka lebar
binasa bersayap, melaju menuju kumpulanmu
memukul telak hati rapuh sang gembala kesepian
merayap membelai hasrat yang lama terkubur
membangkitkan debar, memantulkan jauh mata batin

di depan sana padang rumput terlihat merah kesumba
sungai berbatu dan pohon melayu
gembala tersesat di tengah domba yang tersayat.

Sekilas balik di hari itu

Pexels

Ban itu kempes. Berat dosa, ujarku. Kau tertawa, kecut. Sepertinya ban itu lelah, membawa kita kemana saja bersama dinginnya malam. Atau cemburu? Melihat dengkulku yang dikelitikimu di perhentian lampu merah.

Waktu tak berhenti, tapi kita di sini, berhenti. Memandangi jalan yang disoroti lampu-lampu malam. Membaui karet ban yang dijilati api.

Kau tahu aku bosan. Aku tahu kau kedinginan. Tapi apa boleh buat. Motor itu sudah lebih dulu mengerjai kita.

Lalu kau sodorkan telepon genggammu. Mengusir rasa bosanku dengan sebuah permainan. Lumayan seru, seraya menunggu.

Ketika kita tiba di depan pintu, semua sudah terlambat. Aku terkunci, kau sedikit mencaci. Menyalahi orang-orang yang tidur terlalu dini. Padahal belum jam dua pagi.

Dengan sedikit usaha, akhirnya pintu terbuka. Kita berpisah. Besok janji berjumpa.

Masih di depan pintu yang sama, untuk kemudian membelakangi kepergianmu yang tidak pernah aku harapkan untuk terjadi.


2017

Masih adakah Minggu untuk kita?

Pexels

Tak pernah ada sebelumnya, jika kau kembali bertanya. Sekedar mengingatkanmu bahwa Minggu adalah temu yang tak pernah jemu kuusahakan.

Tak perlu muluk-muluk menarikmu ke pintu taman wisata. Atau mematahkan kakimu untuk berlari mengelilingi lapangan luas beberapa putaran. Mingguku hanya butuh kau yang berlutut dan mendaraskan doa di kursi berwarna hijau lumut. Sambil sesekali mencuri namamu untuk kuletakkan pada doa persembahanku.

Tak apa. Tak mengapa jika tak pernah ada Minggu untuk kita. Nanti datanglah mengunjungi kursi hijau lumut itu, jika kau sempat. Ia akan dengan senang hati menceritakan seperti apa Minggu kita di dalam doaku, jika kau bertanya.


Kata

Pixabay

kulahirkan ia melalui kata-kata
dengan kesakitan yang sangat
dan ketika ia tumbuh besar di dunia
hati yang dingin berubah hangat

kata-kata tak mengenalmu lagi
merawatnya butuh ketiadaanmu
aku mengutuki kata pergi
mengunci separuh indera pengingat untuk kata yang pernah memburu

ia lahir dalam kesendirianku
sudahlah, tak perlu menyalahimu
sudah cukup melihatmu bahagia ketika itu
saat kata-kata milikku kau ucap untuk membuat pipinya bersemu


Rotan-rotan berbalut madu

Pexels

kemarahan ibu telah melekat pada betisku yang tipis dan halus
juga tenaganya yang mirip kuda liar
tanpa pikir, dan semakin meronta mendengar suara-suara minta ampun
yang baginya malah mirip lecutan untuk terus menggila

ayah tak pernah tahu kegilaan itu
hanya peduli pada uang di saku
pulang dua kali seminggu
meninggalkanku dalam cambukan ibu
sembari sesekali mengatakan kalau ia rindu

doa ayah dan ibu tersimpan di dalam rotan-rotan berbalut madu
terdengar lirih ketika bergesekan dengan kulit tipisku
bergema sampai ke telinga Tuhan, mungkin
karena tiba-tiba tangan ibu mati rasa saat akan mengayunkan lecutan ke sekian

entah Tuhan mendengarkan doa siapa, aku ataukah mereka.


Cicak

Pexels

Hewan yang kau tidak suka adalah cicak. Geli. Seperti itulah alasanmu dulu.

Malam ini, dua ekor cicak berseliweran di langit-langit kamarku. Mereka terlihat biasa saja. Tidak menggelikan, pun tidak lucu. Biasa saja. Namun mereka sangat romantis. Saling berkejaran, bersembunyi di balik pigura yang fotonya telah kau hapus dari berandamu, dan akhirnya menghilang di balik gelap lubang-lubang dinding.

Mereka bercinta di gelap suasana. Hanya suara hentakan ekor-ekor liar yang terdengar dan menemaniku menatap layar ponsel bertuliskan namamu. Geli. Melihat wajahmu tersenyum bahagia bersama perempuan bermata cicak itu.


Suara air di musim kemarau

Pexels

lebih indah kicau burung di ranting mati
daripada kicauan ibu di belakang sana
tidak ada air untuk mencuci
sebentar lagi nasib kita serupa bunga di depan rumah, pernah indah hingga kemudian tak lagi bernyawa
burung itupun lalu pergi
ketika ranting itu akhirnya patah
kini yang tertinggal hanya suara ibu yang marah
mengumpat suara air yang deras pada iklan pompa di televisi.


Create your website at WordPress.com
Get started